Pindah Kepesertaan BPJS dari Perusahaan ke Mandiri

Setelah resign dari kantor dan tak bekerja lagi, praktis kepesertaan BPJS harus berubah jadi mandiri. Beginilah cara pindah kepesertaan BPJS dari perusahaan ke mandiri

Saya sebenarnya agak trauma mengunjungi kantor BPJS karena antriannya yang bukan main. Tapi, mau tak mau, demi fasilitas kesehatan yang agak bisa diandalkan, saya pun menekatkan diri pergi ke kantor BPJS Kesehatan Depok. Kantor BPJS Kesehatan Depok ada 2. Kantor BPJS Depok yang lama ada  di Saladdin Square, seberang ITC Depok, dan kantor BPJS Depok yang baru ada di seberang BNI KCU Depok. Dari arah Margonda, kantor BPJS Depok yang baru ini ada di sebelah kiri jalan, menjelang Natasha Skin Care dan lampu merah pertigaan menuju Citayam-Depok 2-Depok.


Apa beda 2 kantor BPJS Depok ini? Kantor BPJS Depok di Saladdin Square khusus kepesertaan baru, khusus yang belum pernah sama sekali mendaftar BPJS. Sementara, kantor BPJS Depok di seberang BNI diperuntukkan bagi keluhan, pengaduan, mutasi kepesertaan, pindah faskes, pendaftaran anggota keluarga baru, serta laporan kartu hilang.

Karena saya hendak mutasi kepesertaan BPJS dari perusahaan ke mandiri, saya pun pergi ke kantor BPJS Depok di seberang BNI KCU Depok. Niat hati sampai sana pukul 07.00 WIB, apa daya kesiangan membuat saya baru sampai pukul 09.00 WIB :p

Sampai sana, satpam langsung mengarahkan ke gedung belakang. Saya diminta melengkapi formulir layaknya membuat kepesertaan baru.Hanya saja, syaratnya ditambah: plus surat resign/surat rekomendasi dari kantor lama.

Saat sampai di gedung belakang, saya agak kaget. Tumben sepi. Cuma ada puluhan orang, gak sampe ratusan 😂 Dan alhamdulillahnya, saat saya mau ambil nomor antrian, ada mbak-mbak manggil saya. “Mbak, mau ambil nomor ya? Ini tadi saya ambil double,” katanya. Lalu, dikasihlah saya nomor 24 yang mana padahal saat itu antrian sudah sampai nomor 33. Alhamdulillah ya nyelak hampir 10 orang. Kata siapa kalo kesiangan rejeki dipatok ayam? Hahaha

Nah, jadi alur antri di BPJS begini:

  • Saat datang, ambil dulu nomor di meja depan. Di meja petugas
  • Lalu, ambil formulir di meja belakang. Beda tujuan beda formulir ya. Baca baik-baik judul formulir. 
  • Baca petunjuk soal berkas lampiran yang sudah sangat informatif. Biasakan baca informasi dengan mendetail ya, guys. (Foto daftar berkas lampiran BPJS akan saya sertakan di bawah)
  • Isi formulir dengan rapi
  • Siapkan berkas-berkas, satukan dan urutkan agar petugas mudah memeriksanya. Saya percaya birokrasi berkualitas bukan saja tercipta dari si pemberi layanan, tapi juga dari pelanggan yang mau memudahkan.
  • Tunggu nomor Anda dipanggil

Jenis Formulir yang Perlu Diisi untuk Kepesertaan BPJS Kesehatan

Persyaratan Pindah Kelas BPJS/Persyaratan Perbaikan Identitas BPJS/Persyaratan Perubahan Susunan Keluarga BPJS/Persyaratan Update Identitas Bayi BPJS

Persyaratan Pindah Kepesertaan BPJS/Persyaratan Tambah Bayi Baru Lahir BPJS/ Persyaratan Pindah Faskes BPJS

Sambil menunggu nomor dipanggil, duduklah yang manis. Gak perlu merubungi meja petugas dan membuat pekerjaannya kian lama. Fyi, di sini cuma ada satu petugas yang akan melayani. Meski demikian, kerjanya cekatan, kok. Saya menunggu 45 menit untuk sampai ke nomor 24 dari nomor 11. Lumayan, kan?

Setelah dipanggil di loket ini, dalam kasus saya, petugas akan mengarahkan untuk menunggu lagi. Kali ini untuk pencetakan kartu. Ada satu loket lagi yang perlu Anda “langkahi” sebelum bisa bernafas lega.

Nah, kalau di loket ini, saya sih sudah sangat  gelisah ngeliatnya. Loket pencetakan kartu hanya dijaga 2 anak PKL. Dan mereka, saya rasa, belum cukup bijaksana membagi wewenang. Seharusnya tugas mereka adalah menampung berkas pembayaran dan membagi kartu yang sudah dicetak. Satu orang memegang satu wewenang maka urusan akan cepat selesai. 

Sayangnya, pekerjaan mereka tumpang-tindih. Ya sambil membagikan kartu ya sambil melayani pengumpulan berkas. Juga, nah ini perlu jadi perhatian pengurus BPJS Depok, mereka turut melayani pertanyaan sejumlah peserta yang baru datang yang terlalu enggan membaca. Kasian sih ngeliatnya tapi ya ngelus dada juga karena proses pembagian kartu jadi luamaa minta ampun. Sewajarnya, kantor BPJS Depok menyediakan satu information desk di gedung belakang. Jadi, peserta baru datang yang mau tanya-tanya ya cukup di sini saja. Tidak perlu sampai menggerecoki petugas di loket lain yang sedang bekerja.

Yang bikin tambah ngelus dada, setelah 1 jam menunggu, saya dipanggil hanya untuk mengambil instruksi bayar. Setelah bayar, baru saya bisa mengajukan pencetakan kartu. Duh, gusti. 

Di loket kedua, begini alur pencetakan kartu BPJS untuk yang mutasi kepesertaan BPJS dari perusahaan ke mandiri

  • Setelah dari loket pertama, Anda akan diminta menunggu panggilan dari loket kedua
  • Begitu sudah dipanggil, Anda akan diminta membayar iuran BPJS bulan pertama sebesar level kelas yang Anda pilih. Pembayaran bisa di kantor pos, alfamart, BNI, BRI, dan Mandiri
  • Setelah bayar, sertakan bukti bayar, fotokopi KTP, dan fotokopi KK
  • Tunggu kartu Anda selesai dicetak. Pencetakan kartu paling lama 30 menit. Cetaknya sih cepet, manggilnya itu loh yang lama 😂

Notes: Untuk Anda yang pindah faskes, Anda tak perlu lagi membayar iuran BPJS sebelum mencetak kartu jika selama ini sudah membayar iuran dengan tertib. Anda hanya perlu menunggu untuk penyerahan kartu baru.

Jadi, begitulah cara pindah kepesertaan BPJS dari perusahaan ke mandiri. Intinya, sama dengan mendaftar baru. Namun, Anda dimudahkan dengan tidak perlu antre bersama pendaftar yang sama sekali belum punya nomor BPJS. Ini karena data Anda sebenarnya sudah ada di sistem. Hanya saja, perlu dikonfirmasi ulang. Anda juga bisa loh mengajukan pindah faskes 1 saat mengurus mutasi ini. Good luck untuk pengurusan BPJS kamu!  🙂

__________________________

Highlight tata cara pindah kepesertaan BPJS dari perusahaan ke mandiri

  1. Ambil nomor antrian
  2. Isi formulir daftar isian peserta bukan penerima upah
  3. Tunggu nomor dipanggil di loket mutasi
  4. Setelah nomor dipanggil, serahkan berkas. Berkas yang perlu disiapkan untuk pindah kepesertaan BPJS dari perusahaan ke mandiri: kartu bpjs asli, foto 3×4, fotokopi kk, fotokopi ktp, surat resign/rekomendasi,fotokopi buku bank (BRI/BNI/Mandiri)
  5. Dari loket mutasi, Anda akan diminta menunggu panggilan dari loket pencetakan kartu
  6. Setelah nama Anda dipanggil, Anda akan diminta membayar iuran bpjs bulan pertama. Bisa lewat BRI/BNI/Mandiri/kantor pos/alfamart
  7. Setelah bayar, serahkan bukti bayar, fotokopi KTP, dan fotokopi KK untuk pencetakan kartu BPJS
  8. Tunggu hingga nama Anda dipanggil untuk pengambilan kartu. Estimasi waktu tunggu 30 menit-1 jam
  9. Kartu telah jadi! Tanda tangani bukti pengambilan
  10. Selamat berobat! Eh, kalau perlu ga usah berobat sih 😅

Review: Black Mirror-Kisah Tanpa Katarsis

Black Mirror, menyaksikan serial ini selalu berakhir dengan kegemasan.

Black Mirror ditulis oleh Charlie Brooker sebagai kisah satir nan sinis seputar kehidupan masa kini hingga masa mendatang. Lewat episode-episodenya, terlihat sekali serial yang lahir di Netflix ini menyindir perkembangan teknologi sekaligus menohok para penggunanya–aku, kamu, kita. Tiap episodenya tak berkaitan, tapi justru karena itu menjadi racun yang terus membuat kita bertanya “apa lagi, apa lagi yang ada di otak Brooker?”.

Seperti yang tersirat dalam judulnya, karya ini membeberkan dengan jelas sisi pahit perkembangan teknologi dan patut ditonton oleh sesiapa yang mulai memiliki kegelisahan yang sama dengan Brooker. Atau bahkan, patut ditonton oleh orang yang masih terlena dengan teknologi yang tumbuhnya kian cepat? Entahlah. Yang pasti, karya Brooker pantas ditonton untuk perenungan.

Sebenarnya, yang sungguh sangat menarik dari kisah-kisah Black Mirror adalah nuansa psikologisnya. Kelainan seksual, perilaku denial, social climber, hingga fenomena secuil bystander effect tak luput dari imajinasinya. Seru. Aneh saat menontonnya. Namun, saat dipikir lagi. Loh, itu kan yang gue lakuin setiap hari. What a jerk, me!

Pun, Brooker mengemas serial ini dengan smooth. Dari satu adegan ke adegan lain ada ceruk yang meninggalkan rasa penasaran yang menunda kita berhenti menonton. 

Dari perkenalan menuju konflik hingga klimaks, setiap adegannya membuat penonton terengah-engah. Ibarat ada dendam yang perlu dibayar tuntas. Cemas, akankah tokoh yang memiliki keberpihakan kita mendapat kebahagiaannya di akhir? Atau bagaimana? Cemas, sebab akhir dari Black Mirror tak kunjung mudah ditebak. 

Namun, seperti yang telah dituliskan di judul review ini, Black Mirror adalah tontonan tanpa katarsis. Ia tak pernah berakhir layaknya kesenangan para penonton. Ia tak pernah mengikuti ego ideal. Ia hanya…argh! Akhirnya selalu realistis. Selalu terlalu nyata. Black Mirror selalu berakhir dengan ajaran: mengatasi masalah tak pernah semudah itu, sayang.

Padahal, saat menonton film, penonton sedang mengalihkan realitasnya ke sebuah realitas baru. Berharap menemukan kebahagiaan dari tokoh protagonis yang berhasil mencapai kebahagiannya sendiri. Tapi dalam Black Mirror? Penonton ibarat melarikan diri ke realitas baru lantas menemukan masalah baru di sini. Menambah beban. Itulah Black Mirror.

Ah, Brooker. You know, what? You made movie like sex without orgasm

.

But still, it’s a good sex anyway.

Perbedaan Seleksi LPDP 2017 dengan Tahun Sebelumnya

Ada perbedaan cukup signifikan antara seleksi beasiswa LPDP tahun 2017 dengan tahun-tahun sebelumnya. Berikut informasi perbedaan seleksi LPDP 2017 dengan tahun sebelumnya yang saya copas dari grup awardee LPDP. Selamat menyimak!

  • Jika sebelumnya dibuka 4x setahun, maka tahun ini hanya dibuka 1x untuk tahun 2017. 
  • Untuk tahun ini ada tambahan tahapan seleksi yaitu online assessment / seleksi assessment secara online. Untuk detailnya seperti apa, saya belum tahu karena baru tahun ini ada.
  • Waktu proses pendaftaran dan seleksi tujuan dalam negeri (DN) dan luar negeri (LN) dilakukan terpisah, tidak berbarengan.
  • Ada keterangan bahwa pendaftaran LPDP reguler tahun 2017 diperuntukkan bagi pendaftar dengan rencana studi atau perkuliahan untuk tahun 2018. Bisa dilihat untuk dalam negeri (DN), penetapan hasil seleksi akhirnya adalah pada tanggal 19 Juni 2017 dan untuk luar negeri (LN) penetapan hasil seleksi akhir adalah pada tanggal 12 Oktober 2017. Jadi untuk luar negeri (LN) tujuan negara Inggris, misalnya, tidak bisa berangkat September 2017 karena hasil baru akan keluar tanggal 12 Oktober 2017.
  • Pendaftar tujuan luar negeri TIDAK BOLEH mendaftar dengan menggunakan TOEFL ITP lagi.
  • Jika tahun sebelumnya pendaftar tujuan luar negeri masih boleh memakai TOEFL ITP, maka mulai tahun ini, sebagaimana yang terteta di screenshot sebelah kanan mengenai syarat bahasa, untuk pendaftar tujuan luar negeri (LN) sudah tidak diperbolehkan memakai TOEFL ITP. Hanya diperbolehkan memakai IELTS, TOEFL IBT, atau TOEIC. 

Selengkapnya, silahkan download buku panduannya di website.
Berikut link-link penting bagi yang tertarik mendaftar beasiswa ini :
Pendaftaran :

http://beasiswa.lpdp.kemenkeu.go.id
Informasi : 

http://www.lpdp.kemenkeu.go.id
FAQ (pertanyaan-pertanyaan umum yang sering ditanyakan)

http://www.lpdp.kemenkeu.go.id/pertanyaan-umum/

Tahapan Seleksi Beasiswa LPDP

Setelah alpa di bulan Januari 2017 kemarin, seleksi beasiswa LPDP akhirnya kembali dibuka bulan ini. Apa saja tahapan seleksi beasiswa LPDP?

Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) adalah beasiswa yang dikelola oleh sebuah lembaga yang berada di bawah naungan Kementerian Keuangan RI. Dicanangkan sejak sekitar 5 tahun lalu, beasiswa ini jadi favorit dan populer di kalangan akademisi yang hendak melanjutkan studi ke jenjang profesi, S2, dan S3. Mengapa? Hmm, apalagi kalau bukan karena konsep full scholarship-nya.

Ya, dari sekian banyak beasiswa yang bertebaran di luar sana, LPDP adalah salah satu lembaga yang memberikan beasiswa full, penuh. Gak pake nawar hehe. Dalam artian, berapa pun biaya studi kamu akan dipenuhi oleh LPDP sampai maksimal 2 tahun. Mau dalam negeri (DN) atau luar negeri (LN) terserah! Yang penting program studi pilihan kamu memiliki akreditasi A. 

Bukan hanya biaya studi yang dipenuhi at cost, kamu juga akan mendapat living allowance (LA), settlement allowance, family allowance, book allowance, tunjangan kesehatan, dana seminar, dana tesis, dan insentif jurnal. Bahkan, beberapa awardee yang berhasil masuk universitas top dunia diberi insentif hingga puluhan juta.

Namun, ibarat pepatah. Ada gula ada semut. Seiring popularitasnya, kian tahun peminat beasiswa LPDP kian banyak. Dan alhamdulillah, dari banyaknya peminat, saya termasuk salah satu yang terpilih mendapat beasiswa LPDP. 

Nah, berdasarkan pengalaman pribadi saya, saya ingin berbagi kisah perihal tahapan seleksi beasiswa LPDP nih sama teman-teman yang tahun ini mungkin mau mencoba LPDP. Apa saja?

Seleksi Administrasi

Tahap pertama seleksi beasiswa LPDP adalah seleksi administrasi. Untuk ini, kamu harus mendaftar dan meng-upload berkas-berkas yang dibutuhkam di situs resmi LPDP.

Berkas yang dibutuhkan adalah scan ijazah, transkrip, rencana studi, hasil toefl (untuk DN Toefl minimal 500), surat pernyataan, surat izin belajar bagi yang sudah bekerja, surat rekomendasi dari dosen atau atasan, KTP, surat keterangan sehat dan bebas narkoba, SKCK, ESAI KONTRIBUSI KAMU UNTUK INDONESIA DAN ESAI KESUKSESAN TERBESAR DALAM HIDUP. (Kok capslock semua sih di bagian esainya? Iya, soalnya ini persyaratan paling gak nyantai dan krusial di tahap ini)

Siapkan semua berkas ini dari jauh-jauh hari. Karena sepengalaman saya, prasyarat satu ini yang bikin kita gugur terlalu dini. Dikalahin sama diri sendiri karena males ngumpulin berkas hahaha 😂

Untuk pelamar program DN, diperbolehkan apply dengan hasil TOEFL ITP. Tapi untuk LN, mulai 2017 ini kabarnya tidak diperbolehkan lagi dengan TOEFL ITP. 

Dan untuk surat rekomendasi, LPDP sudah punya formatnya sendiri. Tinggal unduh lalu minta dosen/atasan kamu isi. Saran saya surat rekomendasi gak perlu diganti formatnya, cukup pakai punya LPDP. Satu-satunya hal yang oke untuk kamu tambahkan adalah kop universitas/kantor kamu supaya surat rekomendasi terlihat lebih valid.

Lalu, untuk surat keterangan bebas narkoba, kamu bisa dapatkan di rumah sakit pemerintah. Jangan yang swasta ya. Saya tes di RSUD Cibinong dan harganya sekitar 250 ribu sudah termasuk biaya dokter. Kalau di Fatmawati, bisa sampai 500 ribu. 

Dan untuk esai…eng ing eng. Harus bertapa dulu deh kayanya. Coba benar-benar diresapi kenapa kamu mau melanjutkan pendidikan. Untuk apa. Apa manfaatnya untuk kamu juga untuk orang lain. Apa kamu melanjutkan karena cinta atau hanya karena terburu-buru. 

Bila kamu belum menemukan jawaban yang pas, lebih baik tunda dulu deh melanjutkan studi. Sebab, isi esai harus benar-benar sesuai dengan cita-cita dan misi yang kamu bawa. Jangan sampai kamu buat esai sebagus mungkin hanya demi lolos seleksi administrasi, tapi sebenarnya jauh sekali dari apa yang kamu rasa. Di seleksi substansi, ada psikolog yang akan menilai loh. Dan dia pasti tahu perkataan kamu sesuai dengan isi hati atau tidak. 

Jangan terlalu njelimet pas bikin esai. Melihat contoh esai orang lain boleh. Minta saran boleh. Tapi yang paling penting ikutin kata hati. Tulislah dengan hati dan dari hati. Toh nanti kamu akan belajar dan mengabdi dengan hati, bukan?

Nah, kalau semua berkas sudah siap, upload lalu submit! Dan tunggu hasil seleksi administrasi kira-kira 2 minggu setelah batas akhir pengumpulan.

Seleksi Substansi

Peserta yang lolos seleksi administrasi akan dikabari via email atau bisa cek akun masing-masing di web LPDP. Email bisa jadi sampai jam 10 malam. Waktu itu sih saya sudah yakin banget saya gak lolos seleksi tahap 1. Udah lewat jam kerja coba, ikhlasin aja. Gitu pikir saya. Eh gak disangka, pas lagi ngantuk-ngantuk nunggu kereta di stasiun, masuklah email membawa kabar baik. Wuhuuu

Dulu kala, setelah lulus seleksi administrasi, calon awardee cukup menghadapi seleksi wawancara. Tapi tidak demikian pada beberapa tahun belakangan. Seleksi wawancara diubah namanya menjadi seleksi substansi yang terdiri atas 3 tes, tes wawancara, tes penulisan esai di tempat, dan tes LGD (Leaderless Group Discussion). Di seleksi substansi, dibedakan DN dengan LN. Untuk DN semua tes dilakukan dalam bahasa Indonesia, sementara LN dilakukan dalam bahasa Inggris.

Seleksi substansi berjalan selama 3 hari dan biasanya berlokasi di STAN untuk wilayah Jakarta. Kamu bisa dapat jadwal tes dalam satu hari saja atau dipecah dalam 2-3 hari. Saya cukup beruntung karena semua tes dirangkum dalam satu hari. 

Dalam satu hari ini, jadwal peserta yang satu akan berbeda dengan yang lainnya. Ada yang tes wawancara dulu atau sebaliknya. Perhatikan baik-baik jadwal yang telah diinformasikan LPDP. Dan menurut saya, lebih baik datang mepet menjelang jadwal ketimbang datang jauh lebih awal dari jadwal. Sebab, semakin siang, presensi gak akan antre. Kamu juga gak perlu deg-degan berjam-jam nunggu giliran. Gak perlu khawatir soal sarapan, disediakan snack box kok sama LPDP.

Di tahap ini, sembari nunggu giliran, rajin-rajinlah bertukar informasi sesama peserta. Terutama perihal soal esai dan LGD. Untuk tes esai dan LGD, peserta dibagi ke dalam 3 kelompok: A, B, dan C. 

Di tes LGD tiap kelompok diberikan satu soal untuk dibahas bersama. Soal biasanya seputar isu kekinian. Modelnya lebih seperti diskusi kelompok. Penilai hanya akan memerhatikan dari jauh. Tips saya, jangan sampai kelihatan terlalu menonjol atau terlalu pasif. Bangun kerja sama dengan teman-teman sekelompok untuk berbagi porsi bicara. Kamu juga akan diberikan secarik kertas untuk coret-coretan. Tuliskan catatan kamu dengan rapi di sini karena di akhir sesi kertas akan dikumpulkan.

Untuk tes esai, tiap kelompok akan diberikan dua soal. Eh tapi ngerjain esainya tetep sendiri sendiri loh 😂 Gak perlu kerjain dua-duanya, cukup pilih salah satu dari dua soal itu. Biasanya akan diminta kutipan berita dari media massa. Saya sebagai seorang pekerja media beruntung banget, sih. Soalnya saya bisa ngutip artikel saya sendiri. Hohoho

Nah, untuk wawancara, yang paling penting adalah berdoa dan ketenangan. Sapa dan salami bapak ibu penilai. Jangan lupa senyum yang manis. Penting sekali membentuk kesan awal yang baik. Dan jangan lupa: percaya diri! Anggap mereka sebagai teman diskusi alih-alih penilai.

Ada 3 penilai, di antaranya akademisi dan psikolog. Kamu akan duduk tepat di hadapan psikolog untuk dinilai gerak-geriknya. Waktu giliran saya, pertanyaan lebih banyak seputar akademis. Mungkin karena saya akan mengambil jurusan yang tidak inline dengan jurusan S1 saya. Ditanya pula seputar rencana tesis dan apa manfaatnya untuk masyarakat, termasuk bagaimana caranya menyosialisasikan tesis kepada orang banyak. Hm, pertanyaan wawancara itu sebenarnya ga bisa ditebak, tergantung selera penilainya. Masa lalu kamu juga bakal digodok. Jadi, jangan heran kalau sampai ada yang nangis.Ups.

Persiapan Keberangkatan

Sekitar sebulan selepas seleksi substansi, hasilnya akan diumumkan. Lucunya, saya salah liat tanggal untuk pengumuman ini. Tau-tau ada temen yang Whatsapp:

“Cuy, gimana lpdp lo?”

“Masih september cuy.”

“Lah, bukannya hari ini? September mah buat yang batch 3!”

Yhaaa. Langsung deh gue mules-mules.

Jam 2 siang waktu itu, saya belum di-email LPDP. Pasrah lagi lah ya. Rezeki di tangan Tuhan. Buru-buru saya buka akun LPDP, bersiap menghadapi kemungkinan terburuk, lah ternyata memang belum ada pengumumannya. 

Mules pun berlanjut lagi

Dari jam 2 siang itu sampai jam 4, ada kali saya cek akun LPDP 15 menit sekali. Saya pun buka Twitter cari hashtag LPDP. Siapa tahu ada yang update soal pengumuman. Dan di jam 4, muncullah twit “alhamdulillah” dari seseorang. Buru-buru saya buka akun LPDP dan ada kalimat terindah yang pernah saya baca seumur hidup: Selamat, Anda lolos seleksi substansi. Allahuakbar, netes loh bener airmata waktu itu.

Saat dapat pengumuman ini, kamu secara resmi adalah awardee LPDP karena nama kamu telah tercantum di surat keputusan. Tapi, jangan harap melangkah lebih jauh kalau belum melewati Persiapan Keberangkatan (PK). *evil laugh*

Buat saya, PK adalah tahap terberat. Bukan favorit saya berkenalan sekaligus dengan banyak orang dalam satu waktu. Apalagi, langsung diminta mempersiapkan acara besar. Akan ada banyak tugas yang dipersiapkan untuk PK. Namun, angkatan kamu berhak memilih untuk mengambil tugas atau tidak.

Saya termasuk kelas menengah di PK ini. Dalam artian, kadang aktif kasih suara kadang engga. Buat kamu yang belum kerja dan punya banyak waktu luang, usahakanlah terlibat banyak dalam pra-PK. Pengalamannya sungguh priceless.

PK berlangsung selama 5 hari. Bila surat undangan resmi telah sampai ke email kamu, kamu gak diperbolehkan lagi menukar jadwal PK. Surat undangan hanya diterbitkan sekali. Tidak memenuhi undangan maka kamu dicoret dari daftar penerima beasiswa. Tapi, sebelum surat undangan sampai ke email, kamu masih bisa tukar jadwal PK.

Meski awalnya terasa berat, PK itu memorable banget! Kamu akan bertemu dengan pembicara-pembicara yang inspirasional dan sukses di bidangnya. Belum lagi pengalaman bertemu dengan teman-teman dari penjuru Indonesia. Bertukar cerita, sharing pengalaman, serta saling menguatkan dan mengingatkan sepanjang hari-hari hectic tidur jam 1 pagi bangun jam 3 pagi akan jadi pengalaman indah seumur hidup. Apalagi saat-saat bertemu dengan Tim PK dan PIC PK Pak Kamil yang super duper luar biasa inspiratif. Luluh lantak deh pasti perasaan pas hari terakhir :”)

Setelah melalui tahapan-tahapan ini, kamu bisa bernapas lega. Tapi, belum sepenuhnya bernapas lega kalau kamu belum mendapat Letter of Acceptance (LoA) dari universitas tujuan. LPDP memberi waktu maksimal 1 tahun untuk berburu LoA. Pastikan universitas dan program studi tujuan kamu ada di daftar LPDP ya. 

Semoga sharing saya soal tahapan beasiswa LPDP dapat memberi kamu gambaran tentang proses seleksi yang akan kamu hadapi. Oh ya, kabarnya, seleksi tahun ini akan ada beberapa perbedaan tahapan dan ketentuan dibanding tahun sebelumnya. Untuk tahu bedanya, klik link ini, ya.

Good luck untuk seleksi kamu. Semangat selalu 🙂

Curhatan Seorang Pemain Ke-12

Batal bawa pulang piala untuk kali kelima. Sedih rasanya.

2004. AFF Suzuki Cup masih bernama Tiger Cup. Pertama kali nonton timnas Indonesia main lawan Malaysia di semifinal. Masih ada Kurniawan. Masih ada duet maut Ilham-Boaz. Ini kompetisi Piala AFF yang paling gue inget. Pertandingan yang paling gue inget. Kenapa? Sebab, karena pertandingan inilah gue mulai naruh perhatian sama sepak bola nasional.
Gue inget banget waktu itu Indonesia ketinggalan 1-0 dari Malaysia. Leg 1 pun kalah 2-1, padahal main di SUGBK. Panik-panik gemes lah pokoknya. Hampir mustahil Indonesia lolos ke final rasanya. 

Pertengahan babak kedua, Kurniawan Dwi Yulianto yang senantiasa jadi supersub masuk. Dan bener aja, beberapa menit selepas menyentuh lapangan hijau, si kurus langsung cetak gol. Indonesia pun bangkit. Setelah itu, gol berturut-turut datang dari kaki Charis Yulianto, Ilham Jaya Kesuma, dan Boaz Salossa. 4-1 untuk Indonesia. Garuda pun melenggang ke final dengan agregat gol 5-3.

Sayang sungguh sayang. Di final, Indonesia harus takluk di tangan Singapura.

Pun, begitu yang terjadi pada 2010. Perjuangan panjang tim garuda lagi-lagi kandas di laga akhir. Kali ini oleh Malaysia.

Setelah itu, tak ada lagi prestasi timnas yang berarti. Satu-satunya angin segar datang dari punggawa yang lebih muda, timnas u-19. Bermain penuh percaya diri, cerdas, dan punya komunikasi yang baik, garuda muda berhasil menjuarai Piala AFF u-19, mengalahkan Vietnam lewat adu penalti dramatis pada 2013. Praktis, ini jadi satu-satunya gelar yang timnas dapatkan sejak tahun 1991. 

Tak perlu menunggu lama untuk akhirnya tim yang dibanggakan ini luluh-lantak. Pelatih kepala Indra Sjafrie dipecat karena dianggap tak mampu memenuhi target Piala Asia. Komposisi tim jadi berantakan. PSSI pun kian carut-marut dengan segudang masalahnya. Disanksi FIFA, sepak bola kita vakum. Tak ada ISL. Mulai dari sini, gue udah males ngikutin sepak bola nasional.

Sampai akhirnya, tibalah tahun 2016. Pasca sanksi FIFA, Indonesia akhirnya dapat berlaga di kompetisi internasional, di AFF. Tidak, gue sama sekali tidak menaruh harapan besar pada tim yang dibentuk hanya dalam kurun waktu kurang lebih 1,5 bulan. Dari permainannya di fase grup aja keliatan kok gagapnya. Tapi gimana ya, yang namanya timnas. Kubenci, tapi rindu.

Terseok-seok di fase grup, tak disangka Indonesia lolos ke semifinal. Harapan membuncah. Rupanya tim prematur ini ada tajinya. Gue pun nonton langsung di Pakansari. Mengobati rindu setelah bertahun-tahun alpa dari bangganya mendukung timnas tersayang. 

Wedan! Ternyata semifinal pun berhasil dilangkahi, walau mainnya ya masih begitu. Banyak miskomnya. Ga pede bawa bola. Terburu-buru.Tapi, dengan permainan ini, Vietnam yang mainnya cadas begitu berhasil digunduli. Indonesia pun lolos ke final dan kala itu hampir pasti menghadapi Thailand.

Duh. Lawan Thailand mah susah deh.

Itu yang gue pikir waktu itu. Dalam bayangan gue, main di kandang pun Indonesia ga punya kans untuk menang. Siapa sangka. Permainan mereka membaik. Mulai bisa oper bola. Mulai lihat kiri-kanan. Dan Thailand kalah 1-2 di leg 1.  Ps: Thailand juga ga bagus-bagus amat sih mainnya. Ps lagi: baca pake nada sinis.

Selepas menang di leg 1, harapan kian besar. Ayo deh pecahin telor. Masa udah 5 kali final, jadi runner up lagi? Begitu ya kira-kira bunyi pengharapannya. 

Tapi….ternyata oh ternyata. Dewi fortuna belum mau terbang bersama garuda. Timnas beserta rakyat Indonesia harus menelan pil pahit kalah dari Thailand di leg ke-2. Indonesia gagal lagi memboyong trofi AFF ke tanah air.

Sedih? Iya. Banget. Malu? Gak sama sekali. Timnas berhasil mengobati kerinduan penikmat sepak bola tanah air dengan kegagahan dan kegigihan mereka menembus final. Banyak bintang baru yang bersinar berkat kompetisi ini. Rizky Pora-Hansamu Yama. Rasa-rasanya, timnas sepak bola Indonesia masih punya harapan gemilang di depan sana.

Yuk. Mari berbangga. Di tengah krisis kebhinekaan di negeri ini, masih ada satu sebab yang membuat kita satu suara. Mari berterima kasih atas keharuan dan kebahagiaan sejenak yang telah mereka berikan. Mari berharap 2 tahun lagi hasilnya akan lebih baik.Mari, mari berdoa untuk Indonesia.

Terima kasih, Garuda. Kami sayang kalian.

Tata Cara Perpanjang SKCK

Halo, kali ini gue mau berbagi cerita soal pengalaman perpanjang Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) di Polres Kota Depok. SKCK ini biasanya dibutuhkan untuk keperluan seperti rekrutmen kerja, pemberkasan CPNS, dan lainnya yang berkaitan dengan instansi pemerintah.

Berhubung masa berlaku SKCK hanya 6 bulan, dokumen satu ini harus selalu diperpanjang. Nah, tapi tenang aja, menurut informasi yang gue dapet dari sebuah situs (lupa namanya apa), SKCK yang kedaluwarsanya masih di bawah satu tahun masih bisa diperpanjang. SKCK gue sendiri kedaluwarsanya udah hampir satu tahun dan masih diterima. Kalau sudah lebih dari setahun, pemohon mesti minta surat pengantar dari kelurahan lagi. Jadi, tata caranya kurang lebih sama kayak bikin baru.

So, apa aja yang perlu dipersiapkan untuk perpanjang SKCK?
1. Bangun pagi. Urusan SKCK ini sebenernya prosesnya cepet. Gue dateng jam 10.00 dan udah kelar jam 11.10. Cuma, kalo dateng kesiangan, loketnya udah penuh dan antre jadi makin lama.
2. Pulpen. Kita akan diminta isi formulir soal identitas yang panjangnya lumayan lah. Nah, pasti butuh pulpen kan.
3. Pasfoto berwarna ukuran 4 x 6 sebanyak 3 lembar (untuk pemohon baru bawa foto sebanyak 5 lembar). Inget ya, background foto harus berwarna merah. Background foto biru akan ditolak dan diminta cetak ulang.
4. Fotokopi KK
5. Fotokopi Akte Kelahiran
6. Lembaran asli SKCK lama

Kalau kamu adalah pemohon baru SKCK jangan lupa bawa surat pengantar dari kelurahan ya.

Curious about the steps? Here they are.
1. Pertama, kamu akan diminta menyerahkan semua dokumen yang dibutuhkan. Setelah diperiksa dan semua dokumen kamu tepat, kamu akan diberikan formulir identitas yang harus diisi.
2. Untuk pemohon baru, biasanya belum punya rumus sidik jari. Padahal, di formulir identitas akan diminta data rumus sidik jari. Nah, kamu bisa pergi ke loket pemeriksaan sidik jari. Prosesnya cepet kok. Cukup 15 menit dan bayar 10.000, rumus sidik jari sudah bisa didapat.
3. Setelah formulir lengkap terisi, kembalilah ke loket pertama (dan satu-satunya). Bila data kamu sudah lengkap, kamu akan dipanggil untuk membayar biaya administrasi sebesar Rp10.000 dan biaya jasa fotokopi lembar legalisasi sebesar Rp10.000. Dulu sih cuma tok Rp10.000 dan bisa fotokopi sendiri yang notabene harganya cuma Rp2.000. Tapi yaudahlah ya, kalo kamu berani protes silakan :B
4. Setelah urusan administrasi selesai, tinggal tunggu dipanggil lagi deh. Kira-kira 30 menit, SKCK plus lembar legalisasinya bisa kamu bawa pulang!

Oh ya, kalau mau proses yang lebih ringkas, kamu bisa isi data di http://www.skck.polri.go.id. Setelahnya, cukup bawa KTP ke Polres yang kamu pilih. Silakan dicoba, tapi sampe kemarin gue buka webnya belum bisa tuh. Hehe

Sekian pengalaman gue perpanjang SKCK. Semoga informasinya cukup membantu ya 🙂

Tips:
-Bawa uang pas supaya pembayaran lebih cepat
-Tulis dengan jelas keperluan kamu bikin SKCK di bagian depan form karena nantinya keterangan ini akan ditulis di lembar SKCK

Pagi Melambat

Pagi kerap datang lebih lambat ketika kamu hendak berkunjung.
Tapi, tak urung pagi yang datang lebih lambat itu membuatku terpaksa menahan kantuk.
Karena harus bangun lebih cepat.
Karena harus menyelesaikan pekerjaan lebih giat.
Pagi yang datang lebih lambat itu, kadang aku malas.
Karena tidurku harusnya bisa lebih panjang.
Namun.
Pagi yang datang lebih lambat itu, seringnya menyulut semangat. Senyummu, aku bisa melumatnya hingga lelah. Di tengah-tengah kantuk yang mengajakku pulang.
Pagi yang datang lebih lambat itu, datang selalu bersama derit pintu beserta aromamu.
Pada
pagi
yang
datang
lebih
lambat
itu, aku merindu.

elegi

Mungkin sudah waktunya semua ini meledak.
Seperti katanya, “Tak ada yang perlu disesali.”
Tak perlu lah mengandai-andai, andai di waktu ini begitu. Andai di waktu itu begini.
Toh, bila tak meledak sekarang, mungkinkah tak meledak nanti?
Toh, bila tak meledak sekarang, isinya takkan pernah terburai. Mengendap di dalam menjadi borok yang kian meranggas. Menghitamkan kemungkinan terbaik.
Tapi, betulkah masih ada kemungkinan terbaik bahkan setelah isinya terburai? Jawabannya ada pada yang mau berusaha. Pada yang mau berusaha sembuh dan menyembuhkan.
Dalam waktu ini. Dalam bulan bulan ini.

Time heals almost everything, kan?

Racauan Jemu (2)

Kamu menganjing-anjingkan wanita

yang terlahir sebagai pemimpin.

“Salah kodrat!” lengkingmu galak.

Si wanita tunduk, susah payah membelenggu otak pintar

juga bibirnya yang kebetulan tak bergincu,

coba menurut pada definisimu tentang kodrat.

Kini si wanita tak bergerak, kamu pun tidak.

Mana?